Analisis Satelit Ungkap 5.746 Hektare Mangrove Babel Terindikasi Tekanan Ekologis

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai wilayah kepulauan dengan garis pantai yang panjang dan ekosistem pesisir yang didominasi oleh mangrove. Ekosistem ini memiliki peran penting sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi, penyimpan karbon, serta habitat berbagai biota yang mendukung kehidupan masyarakat pesisir.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa mangrove merupakan salah satu ekosistem kunci di wilayah ini. Kajian yang dilakukan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Universitas Bangka Belitung pada periode 2024–2025 memperkirakan luas ekosistem mangrove di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai sekitar 66.050 hektare, yang terdiri dari sekitar 46.655 hektare di Pulau Bangka dan 19.395 hektare di Pulau Belitung.

Luasan tersebut menjadi salah satu acuan dalam upaya konservasi dan pengelolaan ekosistem pesisir di Bangka Belitung. Namun demikian, tekanan terhadap kawasan mangrove terus meningkat seiring berkembangnya berbagai aktivitas pemanfaatan wilayah pesisir, seperti pertambangan, pembangunan infrastruktur pesisir, ekspansi perkebunan, pariwisata, serta pertumbuhan permukiman.


Temuan Riset MRV: 11,6 Persen Terindikasi Tekanan Ekologis

Analisis ekologi berbasis pendekatan Measurement, Reporting, and Verification (MRV) yang disusun oleh Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia bersama Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung menunjukkan bahwa tutupan mangrove yang dapat teridentifikasi melalui analisis penginderaan jauh mencapai sekitar 49.333 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 5.746,71 hektare atau sekitar 11,6 persen terindikasi mengalami tekanan ekologis pada periode pengamatan tahun 2025.

Grafik: Luas Tutupan Mangrove & Indikasi Tekanan Ekologis (ha)


Keterangan Grafik

Grafik ini menampilkan perbandingan luas tutupan mangrove dan luas mangrove yang terindikasi mengalami tekanan ekologis pada masing-masing kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2025.

Wilayah disusun untuk memudahkan pembacaan variasi tingkat tekanan ekologis antarwilayah dalam periode pengamatan yang sama. Grafik ini tidak digunakan untuk membaca perubahan antarwaktu, melainkan untuk melihat perbedaan kondisi ekosistem mangrove antarwilayah administratif.

Seluruh data disajikan dalam satuan hektare agar pembaca dapat memahami besaran tekanan ekologis yang teridentifikasi secara nyata di lapangan.


Ringkasan Data Mangrove Per Wilayah

Bangka Tengah
Luas Tutupan Mangrove:
3.881,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
228,58 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
5,9%
Bangka Selatan
Luas Tutupan Mangrove:
9.013,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
715,80 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
7,9%
Belitung
Luas Tutupan Mangrove:
5.218,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
447,73 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
8,6%
Belitung Timur
Luas Tutupan Mangrove:
1.706,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
180,95 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
10,6%
Bangka Barat
Luas Tutupan Mangrove:
14.182,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
1.556,14 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
11,0%
Bangka
Luas Tutupan Mangrove:
14.306,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
2.232,69 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
15,6%
Pangkalpinang
Luas Tutupan Mangrove:
1.027,00 Ha

Terindikasi Tekanan Ekologis:
384,82 Ha
Persentase Tekanan Ekologis
37,5%

Keterangan Data

Setiap kartu data menampilkan ringkasan kondisi ekosistem mangrove pada masing-masing wilayah administratif di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Luas Tutupan Mangrove
Menunjukkan estimasi luas mangrove yang teridentifikasi melalui analisis penginderaan jauh menggunakan data baseline mangrove dan citra satelit resolusi menengah.

Terindikasi Tekanan Ekologis (Hektare)
Menggambarkan luasan mangrove yang terdeteksi mengalami penurunan kondisi vegetasi atau gangguan ekologis berdasarkan indikator spektral vegetasi pada periode pengamatan tahun 2025.

Persentase Tekanan Ekologis (%)
Digunakan sebagai indikator visual untuk membantu pembacaan tingkat tekanan ekologis relatif antarwilayah dan tidak dimaksudkan sebagai dasar penetapan status kerusakan kawasan.

Bar indikator berfungsi sebagai alat bantu visual, sementara nilai luas dalam hektare menjadi rujukan utama dalam membaca besaran tekanan ekologis yang teridentifikasi.


Sebaran Wilayah dan Sistem Peringatan Dini

Secara spasial, Kabupaten Bangka dan Bangka Barat mencatat luasan indikasi tekanan ekologis terbesar secara absolut. Sementara itu Kota Pangkalpinang menunjukkan proporsi tekanan ekologis tertinggi dibandingkan wilayah lain, mencerminkan intensitas pemanfaatan ruang pesisir yang lebih tinggi.

Hasil analisis ini diposisikan sebagai sistem peringatan dini untuk mengidentifikasi area yang memerlukan evaluasi lanjutan. Verifikasi lapangan tetap diperlukan guna mendukung pengelolaan dan perlindungan mangrove berbasis bukti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.


Peta Indikasi Tekanan Ekologis Mangrove


Keterangan Peta

Peta ini menampilkan sebaran mangrove di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta area yang terindikasi mengalami tekanan ekologis sepanjang tahun 2025.

Warna hijau menunjukkan tutupan mangrove yang teridentifikasi melalui analisis citra satelit.

Warna merah menunjukkan area mangrove yang terindikasi mengalami tekanan ekologis, yaitu wilayah yang menunjukkan penurunan kondisi vegetasi atau perubahan nilai indeks vegetasi selama periode pengamatan.

Peta ini digunakan sebagai alat bantu analisis kondisi ekologis dan tidak dimaksudkan sebagai penetapan batas kawasan secara resmi.


Faktor Tekanan Ekologis Mangrove

Laporan riset mencatat bahwa indikasi tekanan ekologis mangrove di Bangka Belitung berkaitan dengan berbagai aktivitas pemanfaatan wilayah pesisir.

Tekanan tersebut antara lain berasal dari aktivitas pertambangan di kawasan pesisir dan perairan dangkal yang berpotensi meningkatkan kekeruhan dan sedimentasi, alih fungsi lahan untuk permukiman, industri, dan infrastruktur pesisir, serta ekspansi perkebunan di daerah aliran sungai yang bermuara ke kawasan mangrove.

Selain itu, aktivitas pariwisata pesisir yang tidak dikelola secara ekologis serta perubahan kondisi hidrologi kawasan pesisir turut berpotensi memengaruhi kesehatan vegetasi mangrove.

Faktor-faktor tersebut bersifat indikatif dan memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan jenis serta tingkat tekanan ekologis yang terjadi di setiap lokasi.


Metodologi Singkat (Kerangka MRV)

Analisis dilakukan dengan menggabungkan data penginderaan jauh dan pendekatan interpretasi ekologis dalam kerangka Measurement, Reporting, and Verification (MRV).

Pada tahap pengukuran digunakan data baseline mangrove serta citra satelit Sentinel-2 dengan komposit median tahunan tahun 2025 untuk mengidentifikasi sebaran mangrove dan indikasi tekanan ekologis berdasarkan kondisi vegetasi.

Tahap pelaporan dilakukan dengan menghitung luas tutupan mangrove dan luasan area yang terindikasi mengalami tekanan ekologis pada tingkat kabupaten dan kota sehingga memungkinkan perbandingan kondisi antarwilayah secara kuantitatif.

Tahap verifikasi dilakukan melalui pembacaan indikator ekologis dan interpretasi spasial berbasis konteks bentang alam pesisir serta pengecekan lapangan terbatas.


Sumber Data

Citra Sentinel-2 – European Space Agency (ESA)
Global Mangrove Watch (GMW)
Google Earth Engine

Pengolahan dan visualisasi data: Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia, 2025

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *