Berawal dari Semangat Besaoh
Bangka Belitung adalah wilayah yang kehidupannya sejak lama dibentuk oleh laut, hutan, serta kekayaan sumber daya alam. Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat di wilayah ini mengembangkan tradisi kebersamaan yang kuat sebagai cara untuk bertahan, beradaptasi, dan menjaga keseimbangan kehidupan.
Tradisi tersebut dikenal dengan Besaoh, sebuah nilai gotong royong yang menekankan kerja bersama tanpa pamrih. Nilai inilah yang menjadi inspirasi lahirnya Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap lingkungan serta berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat, muncul kesadaran bahwa perubahan tidak dapat dilakukan secara terpisah. Budaya, pengetahuan, dan aksi nyata harus berjalan bersama.
Dari kesadaran inilah Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia dibangun sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan masyarakat, pengetahuan, dan gerakan sosial.

Timeline Perjalanan
Perumusan Arah Gerakan
Perjalanan yayasan dimulai dari refleksi terhadap dinamika sosial dan lingkungan di Bangka Belitung. Diskusi komunitas, kajian lapangan, serta pertukaran gagasan menjadi ruang awal untuk merumuskan arah gerakan.
Dari proses tersebut lahir kerangka kerja yang mengintegrasikan tiga pendekatan utama:
-
Sosial
-
Pendidikan dan Riset
-
Lingkungan
Pendekatan ini menempatkan partisipasi masyarakat dan pengembangan pengetahuan sebagai fondasi perubahan.
Penguatan Struktur dan Bidang Kerja
Seiring berkembangnya berbagai inisiatif yang dilakukan, yayasan mulai memperkuat struktur organisasi serta menetapkan bidang kerja yang lebih terarah.
Program yayasan kemudian dikembangkan melalui kegiatan sosial, pendidikan berbasis riset, serta berbagai upaya perlindungan lingkungan.
Melalui struktur ini, kegiatan yayasan dirancang agar tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu menghasilkan dampak yang terukur dan berkelanjutan.
Gerakan Kolaboratif
Dalam perkembangannya, Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia memposisikan diri sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak.
Masyarakat, akademisi, komunitas, pemerintah, dunia usaha, serta berbagai organisasi masyarakat sipil didorong untuk bekerja bersama dalam merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan sosial dan lingkungan.
Melalui riset, dokumentasi budaya, edukasi publik, serta berbagai kegiatan konservasi, yayasan berupaya menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Filosofi Logo Yayasan
Logo Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia merupakan representasi visual dari identitas budaya, arah gerakan, serta komitmen yayasan dalam membangun masyarakat yang berakar pada tradisi dan bergerak melalui pengetahuan.

Lingkaran Emas
Lingkaran melambangkan kesatuan, kebersamaan, dan kesinambungan. Bentuk ini menggambarkan bahwa gerakan yayasan bersifat menyeluruh dan berkelanjutan.
Warna emas merepresentasikan keluhuran nilai, martabat, serta cita-cita besar yang menjadi landasan setiap langkah organisasi.
Maknanya adalah harmoni antara manusia, alam, dan pengetahuan.
Penari Pria Berbusana Hijau
Penari pria melambangkan akar budaya serta kepemimpinan yang berpijak pada nilai tradisi.
Warna hijau mencerminkan kehidupan, pertumbuhan, serta keseimbangan dengan alam. Gerakan tangan yang terbuka menggambarkan kesiapan untuk menjaga, melindungi, dan mengayomi.
Maknanya adalah bahwa yayasan bertumbuh tanpa tercerabut dari akar budaya lokal.
Penari Wanita Berbusana Ungu
Penari wanita melambangkan pendidikan, kebijaksanaan, dan peradaban.
Warna ungu mencerminkan intelektualitas dan martabat. Figur ini menegaskan bahwa kemajuan masyarakat harus dibangun melalui kecerdasan, pendidikan, dan keseimbangan nilai.
Peran perempuan juga digambarkan sebagai pilar penting dalam pembangunan sosial dan transformasi generasi.
Dambus Khas Bangka Belitung
Elemen utama berupa perahu bergitar berkepala rusa merupakan representasi alat musik tradisional Dambus khas Bangka Belitung.
Dambus melambangkan identitas budaya Melayu kepulauan yang sarat dengan nilai sejarah, seni, dan kebersamaan.
Bentuknya yang menyerupai perahu menggambarkan perjalanan dan perjuangan bersama menuju tujuan yang lebih baik.
Kepala rusa melambangkan kewibawaan, ketajaman naluri, serta kepemimpinan yang bijaksana.
Daun dan Unsur Alam
Elemen daun mencerminkan komitmen yayasan terhadap kelestarian lingkungan serta keberlanjutan ekosistem.
Simbol ini menegaskan bahwa pembangunan sosial dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap alam.
Buku Terbuka dan Pena
Buku dan pena melambangkan literasi, ilmu pengetahuan, serta gagasan sebagai fondasi perubahan.
Yayasan tidak hanya bergerak melalui aksi sosial, tetapi juga melalui pendidikan, riset, serta pencerdasan masyarakat.
Makna Filosofis
Logo Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia menggambarkan keseimbangan antara:
Budaya
Alam
Pendidikan
Perjuangan sosial
Melalui simbol tersebut, yayasan menegaskan identitasnya sebagai lembaga yang:
-
Berakar pada budaya Bangka Belitung
-
Bergerak melalui pendidikan dan literasi
-
Menjaga kelestarian alam
-
Membangun peradaban dengan nilai dan kebijaksanaan
Filosofi ini dapat dirangkum dalam satu kalimat:
“Berakar pada budaya, bertumbuh bersama alam, dan bergerak melalui pendidikan untuk membangun masa depan yang bermartabat.”
Komitmen Yayasan
Yayasan Rumpun Besaoh Indonesia berkomitmen untuk:
-
Memperkuat solidaritas sosial masyarakat
-
Mengembangkan pendidikan dan riset berbasis pengetahuan
-
Melindungi dan memulihkan ekosistem darat dan laut
-
Membangun kemitraan lintas sektor
Dengan memadukan budaya, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata, yayasan ini hadir sebagai gerakan kolaboratif yang berupaya membangun masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan.

